Pengalaman

Menahan Menahun

Oleh: Radif Rahadian

“ Aku sebenarnya udah capek banget, tapi gak mungkin aku melawan”

Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang CPNS, aku menyebutnya begitu karena dia memberitahuku bahwa itu adalah sebutan yang tepat bagi seseorang yang baru lulus seleksi CPNS namun belum sepenuhnya menjadi PNS karena berbagai ketentuan yang tentunya aku sebenarnya gak ngerti juga. Tapi yang aku tahu ini bukan kali pertama ia melakukan hal yang sebenarnya tidak mau dilakukannya. Bagaimana aku tahu, karena kami sering mengobrol.

Dalam salah satu obrolan, kami menemukan satu kebiasaan yang ternyata sudah lama ia lakukan: selalu mendahulukan kepentingan orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kewalahan. Keinginannya ditunda, keberatannya disimpan, dan rasa lelahnya berkali-kali dianggap bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
Bukan karena ia tidak punya keinginan sendiri, tetapi karena selama ini menjaga perasaan orang lain terasa lebih mudah daripada menghadapi kemungkinan bahwa seseorang akan kecewa kepadanya.

Dalam obrolan itu, kami akhirnya memberi kebiasaan ini sebuah nama: Menahan Menahun. Sebuah kebiasaan menahan diri yang berlangsung begitu lama, sampai seseorang tidak lagi menyadari bahwa dirinya juga punya kebutuhan yang layak didahulukan.

Dihari kami mengobrol itu aku menyadari bahwa ada 1 hal yang menarik. Ia tidak bilang, “Aku nggak mau melawan,” melainkan “Nggak mungkin aku melawan.” Dua kalimat yang sekilas terdengar sama, tetapi sebenarnya punya makna yang berbeda. Tidak mau bisa jadi sebuah pilihan. Sementara tidak mungkin sering kali lahir dari situasi yang membuat seseorang merasa tidak punya pilihan.

Sebagai seseorang yang baru memulai karier sebagai aparatur sipil negara, ia sedang berada dalam posisi yang tidak sepenuhnya punya kuasa. Ada senioritas, hierarki, penilaian kinerja, dan tentu saja harapan untuk bisa menjalani pekerjaannya dengan baik. Menolak permintaan orang lain, terutama mereka yang punya posisi lebih tinggi, bukan perkara sederhana. Dan aku rasa situasi semacam ini tidak hanya dialami oleh seorang CPNS.

Banyak dari kita hidup dalam hubungan yang membuat kata “tidak” terasa terlalu mahal untuk diucapkan. Ada yang takut dianggap tidak tahu berterima kasih. Ada yang khawatir kehilangan pekerjaan. Ada yang tidak ingin merusak hubungan keluarga. Ada juga yang sejak kecil sudah terbiasa menjadi anak baik, teman yang pengertian, atau pasangan yang selalu mengalah.

Lama-kelamaan, kita tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu ingin kita lakukan. Kita justru sibuk menghitung apa yang mungkin terjadi kalau kita menolaknya. Bagaimana kalau dia marah? Bagaimana kalau aku dianggap egois? Bagaimana kalau setelah ini hubungan kami berubah? Akhirnya, kita memilih menahan. Bukan karena tidak tahu bahwa diri sendiri sedang terluka, tetapi karena kemungkinan mengecewakan orang lain terasa jauh lebih menakutkan daripada mengecewakan diri sendiri.

Ketika menjadi orang baik mulai melelahkan
Aku tidak ingin buru-buru menyebut kebiasaan ini sebagai people pleasing. Bukan karena istilah tersebut keliru, tetapi karena aku merasa ada sesuatu yang perlu dipahami lebih jauh sebelum kita memberi nama pada pengalaman seseorang. Kadang kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa seseorang sulit berkata tidak karena tidak punya batasan diri. Lalu nasihat yang diberikan pun terdengar sederhana: belajar tegas, berani menolak, atau berhenti memikirkan perasaan orang lain.

Padahal, dalam beberapa situasi, seseorang sudah tahu bahwa dirinya ingin menolak. Persoalannya bukan pada ketidakmampuan mengenali keinginan sendiri, melainkan pada konsekuensi yang mungkin harus ditanggung setelah keinginan itu disampaikan. Bagaimana seorang pekerja kontrak menolak permintaan atasannya ketika ia masih membutuhkan perpanjangan kontrak? Bagaimana seorang anak menyampaikan keberatan ketika seluruh kebutuhan hidupnya masih bergantung pada keluarga? Bagaimana seseorang yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai tempat bersandar tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya juga membutuhkan bantuan?

Tidak semua orang punya keleluasaan yang sama untuk berkata tidak.

Karena itu, aku merasa penting untuk tidak menjadikan keberanian menolak sebagai satu-satunya ukuran bahwa seseorang sudah mampu menjaga dirinya sendiri. Kadang keputusan untuk diam memang merupakan strategi bertahan yang paling memungkinkan dalam situasi tertentu. Namun, ada pertanyaan lain yang juga penting untuk kita bicarakan. Kalau selama ini kita terus memilih memahami keadaan orang lain, kapan kita punya kesempatan untuk memahami keadaan diri sendiri?

Kita juga bisa menjadi orang yang paling sering mengabaikan diri sendiri

Dalam obrolan kami, aku tidak langsung mengajaknya membicarakan bagaimana cara menolak permintaan orang lain. Aku justru tertarik pada bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri setiap kali merasa keberatan. Apakah ia mengizinkan dirinya marah? Apakah ia merasa berhak kecewa? Atau justru setelah melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan, ia masih harus meyakinkan dirinya bahwa semua itu memang sudah seharusnya dilakukan?

Sebab menahan tidak selalu berhenti pada tindakan mengalah. Kadang setelah mengalah pun kita masih harus bekerja keras untuk membenarkan keputusan tersebut.
“Nggak apa-apa, mungkin dia lebih butuh.”
“Ya namanya juga masih baru.”
“Daripada bikin masalah.”
“Sudahlah, cuma kali ini.”

Sayangnya, yang kita sebut cuma kali ini bisa terjadi berkali-kali. Dan setiap kali itu terjadi, kita mungkin semakin terbiasa menganggap kebutuhan sendiri sebagai sesuatu yang bisa ditunda. Istirahat bisa nanti. Marah bisa nanti. Menangis bisa nanti. Membicarakan apa yang sebenarnya kita inginkan juga bisa nanti. Sampai suatu hari kita menyadari bahwa hampir semua hal tentang diri sendiri selalu mendapat giliran terakhir.

Menahan bukan berarti tidak merasakan
Ada orang yang tampak begitu tenang ketika diperlakukan tidak adil. Ia tetap tersenyum, menyelesaikan pekerjaan, bahkan masih bisa bercanda dengan orang yang membuatnya kesal. Namun, ketenangan yang terlihat dari luar tidak selalu berarti seseorang benar-benar baik-baik saja.

Ada perasaan yang tidak mendapatkan kesempatan untuk hadir karena kita terlalu sibuk memastikan keadaan tetap terkendali. Kita menunda marah supaya tidak memperkeruh situasi. Menunda sedih karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Menunda istirahat karena ada orang lain yang membutuhkan bantuan.

Aku membayangkan betapa melelahkannya hidup ketika bahkan untuk merasakan emosinya pun seseorang harus menunggu keadaan cukup aman. Dan terkadang, ketika akhirnya menemukan ruang untuk bercerita, yang muncul bukan hanya persoalan hari itu. Ada banyak kejadian lama yang ikut terbawa.Hal-hal yang sebelumnya dianggap selesai ternyata hanya berhenti dibicarakan. Aku rasa itulah mengapa kami memilih kata menahun. Bukan semata-mata karena kebiasaan ini berlangsung dalam waktu yang lama, tetapi karena ada akumulasi pengalaman yang membuat seseorang semakin terbiasa menempatkan dirinya sendiri di belakang.

Belajar tidak menahan semuanya sendirian
Aku tidak tahu apakah setelah obrolan kami ia akan mulai setidaknya mencoba untuk berani menolak permintaan orang lain yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan. Dan sejujurnya, itu juga bukan target yang ingin kupaksakan kepadanya. Aku hanya berharap ia mulai punya kesempatan untuk mengenali apa yang selama ini terlalu sering dikesampingkan.

Bahwa ia boleh merasa keberatan, sekalipun belum bisa menyampaikannya. Bahwa ia boleh marah, sekalipun memilih untuk tidak menunjukkan kemarahannya. Bahwa ia boleh mengakui dirinya lelah, tanpa harus lebih dulu membuktikan bahwa beban yang ditanggungnya cukup berat untuk membuatnya pantas beristirahat.

Mungkin untuk sementara ia masih perlu menyesuaikan diri dengan keadaan. Mungkin ada hal-hal yang memang belum bisa diubah sekarang. Tapi setidaknya, ia tidak harus ikut meyakinkan dirinya bahwa semua yang dianggap “aman” olehnya ketika mengaiyakan hal yang sebenarnya tidak ingin ia lakukan ternyata memiliki efek samping bagi dirinya sendiri.

Mungkin ketika ia melakukannya, ia mendapat rasa aman itu, tapi yang tidak disadari adalah ia semakin kehilangan hubungan dengann dirinya sendiri. Dan bagiku, salah satu hal penting dalam proses konseling adalah membantu seseorang kembali memiliki hubungan dengan dirinya sendiri. Bukan menjadikannya manusia yang selalu berani melawan. Bukan pula manusia yang tidak lagi peduli pada kebutuhan orang lain. Melainkan seseorang yang mulai menyadari bahwa dirinya juga termasuk orang yang perlu diperhatikan.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk belajar menjadi orang yang bisa diandalkan oleh siapa saja, sampai lupa bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bisa diandalkan oleh diri sendiri. Kita tahu kapan orang lain membutuhkan bantuan, tetapi kesulitan mengenali kapan diri sendiri membutuhkan pertolongan. Kita hafal apa yang membuat orang lain kecewa, tetapi jarang bertanya apa yang selama ini membuat kita kecewa. Kita begitu berhati-hati agar tidak menyakiti orang lain, tetapi tidak menyadari berapa kali kita meminta diri sendiri menanggung sesuatu yang sebenarnya sudah terlalu berat.

Menahan menahun bukan hanya tentang berapa lama kita menyimpan perasaan. Ini juga tentang berapa lama kita belajar bahwa kepentingan orang lain selalu lebih penting daripada kepentingan diri sendiri. Dan mungkin, untuk mulai mengubahnya, kita tidak harus langsung belajar mengatakan tidak kepada semua orang.

Kita bisa mulai dengan berhenti mengatakan “nggak apa-apa” kepada diri sendiri setiap kali ada sesuatu yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Karena kita juga berhak menjadi seseorang yang perasaannya didengar.

Termasuk oleh diri kita sendiri.

Admin Ruang Teduh

Bagian dari tim Ruang Teduh.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *